BERITA UPDATE
ADVERTISEMENT

Literasi Digital Kunci Lindungi Anak dari Bahaya AI, Ini Kata Pengamat

Literasi Digital Kunci Lindungi Anak dari Bahaya AI, Ini Kata Pengamat
Ilustrasi. Literasi digital pada anak. (Dok. Ist)

TAJAM.NET - Perkembangan kecerdasan buatan (AI) menghadirkan berbagai manfaat, namun juga membawa risiko bagi anak-anak.

Pengamat Budaya dan Komunikasi Digital dari Universitas Indonesia, Firman Kurniawan, menegaskan pentingnya peran orangtua dalam memahami serta mengawasi penggunaan teknologi ini agar tidak membahayakan buah hati mereka.

aIa menyoroti bahwa kurangnya literasi digital di kalangan orangtua dapat membuka celah bagi penyalahgunaan AI yang merugikan anak-anak.

"Orang tua itu harus tahu persis kalau semua penyimpangan yang melibatkan AI pada anak-anak itu mengandalkan pada penyalahgunaan data. Sayangnya, banyak orang tua belum memahami keamanan data. Di sinilah peran pemerintah, platform, dan lembaga terkait untuk memberikan penyuluhan yang sistematis," katanya dikutip ANTARA, Jumat (28/2/2025).

Firman mengacu pada laporan lembaga nirlaba asal AS, Child Rescue Coalition, yang dipublikasikan pada 2025 dengan judul "The Dark Side of AI: Risks to Children".

Dalam laporan tersebut, dijelaskan bahwa AI dapat disalahgunakan dalam bentuk AI-Generated Child Sexual Abuse Material (CSAM) dan AI-Driven Online Grooming.

CSAM merupakan materi eksploitasi seksual yang dibuat menggunakan algoritma AI dengan menargetkan wajah anak-anak yang kemudian digunakan untuk pemerasan.

Sementara itu, AI-Driven Online Grooming adalah teknik yang memanfaatkan algoritma AI untuk mengidentifikasi dan memanipulasi korban melalui data digital mereka.

Anak-anak yang tidak mendapatkan pendampingan orang tua menjadi lebih rentan terhadap taktik bujukan para pelaku kejahatan siber ini.

Untuk menghadapi ancaman ini, Firman menekankan bahwa orang tua perlu dibekali pemahaman tentang keamanan siber dan penggunaan AI secara aman.

"Sebenarnya sama dengan melindungi anak bergaul di dunia nyata kan, orang tua tetap harus ambil andil, memastikan pola komunikasinya seperti apa dengan sekitarnya, nah itu orang tua harus terlibat. Nah ini juga sama di media sosial dan internet yang menyediakan pintu-pintu serupa," katanya.

Orang tua perlu memahami bagaimana AI bekerja, termasuk risiko dan cara melindungi anak dari potensi bahaya. Kesadaran ini penting agar mereka dapat membimbing anak-anak dalam berinteraksi di dunia digital secara aman.

Firman juga menyoroti tanggung jawab platform digital dalam memastikan literasi siber lebih mudah diakses oleh orang tua.

Salah satu langkah konkret yang bisa dilakukan adalah menyediakan panduan fitur pengawasan anak dalam bahasa Indonesia, agar lebih mudah dipahami oleh para pengguna.

"Jadi kadang dia (orang tua) tidak ngerti bagaimana cara mengatur pengawasan anak di akun platform digital karena mungkin disajikan dalam Bahasa Inggris. Jadi ya harusnya mungkin menyediakan bahasa Indonesia sejak awal agar ini bisa dipahami sebelum (layanan platform digital) digunakan," ujarnya.

Selain itu, pemerintah juga memiliki peran penting dalam mengatur sistem keamanan siber yang lebih ketat. Firman merekomendasikan agar aturan bagi penyelenggara sistem elektronik (PSE) juga mencakup regulasi bagi pengembang teknologi AI.

Tak hanya itu, regulasi ini juga harus memastikan bahwa orang tua mendapatkan literasi yang cukup mengenai AI, sehingga mereka dapat membimbing anak-anak dalam menggunakan teknologi secara bijak.

"Aturan itu, selain memang para penyedia layanan platform digital harus diketatkan keamanan sibernya untuk pembatasan akses sesuai usia, tapi untuk orang tuanya juga harus dipastikan mendapatkan literasi yang setimpal sehingga anak-anak itu bisa dibina sama mereka," tutup Firman.

alexabet88

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT